Lapas Narkotika Gunung Sindur “Naik Kelas”: Sentra UMKM dan Ketahanan Pangan dari Balik Tembok Pemasyarakatan


Gunung Sindur — Lapas Narkotika Gunung Sindur terus menunjukkan transformasi pembinaan yang produktif di bawah kepemimpinan Bambang Wijanarko. Di balik sistem pengamanan ketat, lapas yang dikenal sebagai tempat pembinaan narapidana kasus narkotika risiko tinggi itu kini berkembang menjadi sentra UMKM dan ketahanan pangan. Saat menerima kunjungan awak media bersama jajaran pejabat struktural, Bambang menegaskan bahwa pembinaan di Gunung Sindur tidak hanya berfokus pada keamanan, tetapi juga mendorong warga binaan agar memiliki keterampilan dan kemandirian ekonomi.

Dengan luas area mencapai 30 ribu meter persegi dan jumlah penghuni sekitar 1.100 warga binaan dari kapasitas 1.300 orang, kondisi lapas dinilai lebih ideal untuk menjalankan program pembinaan produktif. Berbagai sektor dikembangkan mulai dari penggilingan padi, peternakan ayam petelur, budidaya entok jumbo, hingga pertanian sayur mayur seperti cabai, tomat, kangkung, timun, terong, dan jagung. Produksi beras bahkan mampu mencapai sekitar 30 ton per bulan dan turut menyuplai sejumlah UPT Pemasyarakatan serta mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain sektor pertanian dan peternakan, Lapas Narkotika Gunung Sindur juga mengembangkan konsep hilirisasi produk melalui budidaya maggot sebagai pakan alternatif ternak guna menekan biaya produksi. Warga binaan turut diberdayakan dalam berbagai bidang UMKM seperti produksi kandang baterai ayam petelur, laundry, barbershop, hingga pengolahan makanan dan minuman. Salah satu produk unggulan yang kini mulai dipasarkan adalah minuman jahe merah bermerek “The Guns”, sementara produksi kandang ayam telah menerima pesanan dari berbagai lapas dan rutan di Indonesia.

Transformasi di Lapas Narkotika Gunung Sindur menjadi bukti bahwa lembaga pemasyarakatan dapat menjadi ruang pembinaan dan pemberdayaan yang produktif. Warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan kerja dan pengalaman usaha sebagai bekal saat kembali ke masyarakat. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi wajah baru pemasyarakatan modern yang lebih manusiawi, mandiri, dan berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia.




